Keluarga adalah dunia kecil tempat di mana manusia mempelajari dasar-dasar kehidupan. Dan untuk itu ukuran dan kemewahan tidak menjadi ukuran. Pelajaran hidup bias didapat di keseharian, dalam sebuah ritual sederhana, misalnya makan malam. Leo F. Buscagila, seorang professor di AS, menuangkan kenangan tentang ayahnya dalam buku Papa My Father. Berikut petikannya.
Ketika ayah mulai tumbuh dewasa, dunia sedang berada pada pergantian abad. Pada masa krisis semacam itu, pendidikan hanya milik mereka yang berharta, sementara ayah hanyalah anak petani miskin. Di kelas lima sekolah dasar, beliau berhenti sekolah disertai protes dari gurunya. Ayah kemudian bekerja di pabrik. Sejak saat itu kehidupan menjadi sekolah dan tempat belajarnya.
Hasrat yang besar untuk belajar serta keingintahuannya terhadap dunia luar membawanya menyeberangi lautan, berimigrasi ke Amerika. Sejak itu ia memutuskan bahwa tak seorang pun anaknya yang tidak tersentuh pendidikan.
Ayah percaya, bahwa dosa terbesar bagi seorang manusia adalah pergi tidur di malam hari sebagai orang dengan pengetahuan yang sama ketika bangun pagi. “ Ada begitu banyak hal untuk dipelajari,” katanya, “Meskipun manusia dilahirkan bodoh, hanya orang bodoh yang akan tetap begitu.”
Untuk menumbuhkan kecintaan akan pengetahuan, ayah mengharuskan kami untuk setidaknya belajar satu hal baru setiap hari. Makan malam adalah forum yang tepat untuk berbagi apa yang telah kami pelajari hari itu. Sebagai anak kecil, kami menganggap ini sinting belaka. Dibanding orang tua lain pada umumnya, ayah jelas-jelas aneh.
Biasanya, sebelum makan malam, kami, anak-anak, akan saling berbisik “Apa yang kamu pelajari hari ini?” Jika jawabannya adalah ‘tidak ada”, kami tidak akan pernah berani pergi makan tanpa sebelumnya berkutat membaca ensiklopedi tua milik keluarga, menenlisiknya sampai menemukan fakta yang bisa kami bawa. Dan, … ini dia ! “Penduduk Nepal berjumlah … “
Makan malam bagi kami adalah saat yang bising dan ramai. Setiap informasi, tidak peduli betapapun remehnya, akan didengar dengan serius. Ayah dan ibu selalu siap dengan tanggapan. Kadang erupa dukungan ataupun analisa, dan semua diungkapkan secara terbuka.
Akhirnya saatnya tiba. Saatnya untuk berbagi apa yang kami pelajari hari ini. Ayah, di kepala meja, menyalakan sebatang rokok Italia, menatap kami satu persatu. Ia seiring berkata bahwa ini dilakukan karena ayah yakin bahwa kami akan tumbuh cepat dan ayah tidak ingin kehilangan setiap momen pertumbuhan kami.
Akhirnya pandangannya akan jatuh pada salah seorang dari kami. “Felice,” katanya, memanggil nama kecil saya. “Coba beritahu Ayah, apa yang kamu pelajari hari ini ?”
“Mmmh, penduduk Nepal itu berjumlah … “
“Jumlah penduduk Nepal. Hmmm … “ Dia kemudian bertanya pada Mama,”Mama tahu hal tersebut ?”
Mama, yang menjadi penghangat suasana menjawab,”Nepal ? Jangankan penduduknya, dimana Tuhan meletakkan negeri itupun, Mama tidak tahu.”
“Felice,” katanya, “Ambil atlas supaya kita bisa menunjukkan pada Mama, dimana itu Nepal.” Dan seluruh keluarga pun terlibat dalam pencarian Nepal, mengupas segala informasi tentang Nepal yang dapat kami temukan. Hal yang kurang lebih sama selalu terulang setiap kali tiba giliran pada anggota keluarga yang lain. Tidak pernah ada makan malam yang berakhir tanpa sebuah pengetahuan baru tentang sesuatu.
Bertahun kemudian, dalam sebuah retropeksi saya menyadari kedinamisan teknik yang diterapkan ayah pada kami. Tanpa kami sadari, keluarga kami tumbuh bersama, berbagi pengalaman, dan berpartisipasi dalam pendidikan satu sama lain. Dengan menatap kami, mendengarkan, menghargai pendapat kami, meneguhkan norma-norma yang kami yakini, danmenumbuhkan harga diri kami, ayah jelas guru yang sangat berpengaruh bagi anak-anaknya.
“Berapa lama kita hidup, itu terbatas,” ujarnya selalu. “Tapi seberapa banyak yang bisa kita pelajari tidak terbatas. Kita adalah apa yang kita pelajari.” Dan setiap malam sebuah pertanyaan akan tergiang di telinga saya,”Apa yang kamu pelajari hari ini ?” (att-disadur dari Reader’s Digest, diketik ulang oleh dew dari majalah B-Family no. 1/Tahun I/Maret 2003)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar