Jumat, 10 Desember 2010

Kesetiaan

Bertahanlah untuk tetap Setia
Ada seekor burung betina tertabrak mobil karena terbang menukik terlalu rendah. Ia terkapar tak berdaya. Beberapa kali, dgn penuh cinta, sang jantan membawakan kekasihnya amakanan. Lagi, ia membawakan makanan tapi sang betina telah meninggal.
Jantan itu mencoba menggerakkan tubuh pasangannya untuk emamstikan aopa yang terjadi. Sadar bahwa belahan hatinya telah tiada dan tak akan kembali, ia berkicau keras meratapi pkepergian pasangannya, tanpa bernajak dari jasad kaku sang kekasih.
Jutaan orang di dunia menangis usai melihat rangkaian gambar yg dibidik seorang wartawan ini. Dimulai saat si betina tertabrak, diberi makan berkali-kali oleh pasangannya, sampai tak bergerak lagi. Si wartawan menjual foto-foto terebut ke salah satu Koran terbesar di Perancis. Seluruh ekslempar Koran tersebut habis terjual ketika gambar-gamabra ini dimuat.
Kesetiaan memang menyentuh relung hati, tak perduli siapa pelakunya. Bahkan, kisah Hachiko, anjing yg sangat setia menanti tuannya selama 10 tahun di stasiun KA Shibuya, Tokyo, sangat melegenda. Hachiko tidak tahu bahwa Profesor Ueno, tuannya, telah meninggal di kampus tempatnya mengajar. Ia terus menjemput ‘tuannya yg hilang ’ selama bertahun-tahun sampai ajalanya sendiri tiba. Patung tembaga Hachiko sekarang menjadi monument ‘kesetiaan’ di stasiun tersebut.
Kisah kesetiaan, apalagi harus berakhir dengan perpisahanan, selalu membuat air mata saya merebak. Tapi mengapa saya harus mengambil ilustrasi hewan sebagai ‘wajah’ kesetiaan ? Sebab, bila itu dilakukan manusia, tentulah wajar. Kita punya akal dan nurani. Sedangkan hewan, yang hanya memiliki hawa nafsu, dari mana ia belajar arti setia ?
Namun, disinilah masalahnya. Sesuatu yang wajar ternyata tdk otomatis mudah didapat. Kesetiaan manusia seirng tercampuri oleh berbagai kepentingan untung rugi, karena akalnya tahu untung itu enak dan rugi itu tidak enak. Keuntungan versi pikiran seringkali mengalahkan nurani. Jadilah kesetiaan semakin sulit ditemui dalam jiwa manusia kini.
Pdhl orang yg sangat tidak setia sekalipun, tetap ingin diberi kesetiaan. Bahkan Alloh swt saja sangat gembira mendapati hamba-Nya yg kembali setia pada-Nya, melebihi kegembiraan seorang musafir yg menemukan kembali untanya yg hilang.
Kesetiaan cepat atau lambat akan melahirkan banyak kebaikan. Ia bias menumbuhkan semangat, cinta, rindu, kepercayaan diri, dan loyalitas seseorang untuk kita. Bahkan kepedihan pun akan menjadi sangat agung, ketika takdir menentukan kesetiaan harus terpisahkan oleh maut.
“Bahwasanya orang-orang yg berjanji setia kpd kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Alloh. Tangan Alloh di atas tangan mereka, maka barangsiapa yg melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Alloh, maka Alloh akan memebrinya pahala yg besar.” (TQS AL Fath [47] : 10)
Jk memang ganjaran kesetiaan begitu indah, mengapa harus sulit untuk bersikap setia ? Bukan hanya bagi pasangan, orangtua yg tidak pernah pamrih, perusahaan yg memberi gaji, walau kerja kita tdk maksimal, negara tempat kita berpijak, bahkan Tuhan semesta alam menanti kesetiaan kita dengan imbalan yg tidak tanggung-tanggung; kenikmatan hidup di dunia dan akherat.
Mari berusaha setia pd janji yg pernah tercetus, pd kebaikan perilaku yg telah kita rintis, dan pd kemuliaan ibadah yg mulai meningkat. Sehingga tak pernah akan terucap dari lisan kita,”Dulu ibadahku (atau kecintaanku padanya) lebih baik dari sekarang.”
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semuanya untuk Alloh Tuhan semesta alam.” (TQS Al An Aam [6] 162)
Oleh Meutia Geumala. Diambil dari majalah Ummi no 5/XXII/September 2010/1431 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar