In The Nane of Alloh, The Most Gracious, The Most Merciful
Pro-U dan Bedah Buku
Satu kali, bersama dengan teman-teman, Wik pergi menghadiri acara bedah buku yang diadakan Pro-U dengan buku yang dibedah adalah karya Salim A Fillah yang fenomenal, Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah. Bedah buku waktu itu diadakan di masjid Gede Kauman, Jogjakarta . Ketika kita datang ke sana , peserta sudah membludak sehingga serambi masjid pun tidak mampu menampung peserta. Bahkan ada peserta yang terpaksa rela berdiri untuk menyimak untaian ilmu dari acara itu. Yang Wik tahu setelah acara itu, kakak teman Wik yang nota bene, orang awam dan tidak begitu rajin ikut pengajian atau tidak begitu tertarik dengan acara-acara berbau agama, saat itu datang beserta pacarnya ! Fantastis ! Wik menarik kesimpulan, adanya antusiasme peserta yang haus ilmu dan promosi yang gencar telah mampu menjadikan acara bedah buku itu sukses ses !
Nah, sepertinya dari acara bedah buku pertama Salim itu, Wik mulai melihat, betapa royalnya pro-U membagi doorprizes buku gratis ke peserta. Ia pun mulai mengenal Pro-U sebagai penerbit buku yang digawangi anak-anak muda yang penuh semangat dengan idealisme Islam mereka dan profesionalitas yang coba mereka bangun. Ketika banyak masyarakat Indonesia yang bahkan merasa malu, phobi dengan keIslaman mereka atau mereka yang baru sekedar KTPnya yang Islam, anak-anak muda yang memotori pro-U berbeda. Mereka bangga dengan keislaman mereka dan tanpa segan dan sungkan menampilkannya dalam cetakan demi cetakan buku yang mereka hasilkan, juga dalam perilaku mereka (penampilan berpakaian, sapaan dan tindak tanduk mereka ketika menggelar acaara bedah buku ataau pameran). Semangat keislaman, kesungguhan, kerja keras para awak pro-U mengelola penerbitan mereka, selain kedermawanannya membagi buku gratis sebagai doorprizes di hampir setiap acara bedah buku yang mereka gelar, membuat Wik menaruh simpati dengan penerbitan yang asli lahir di Jogja ini.
Sekarang, ketika Wik melihat rak buku Wik, di sana baru ada empat buah buku terbitan pro-U, yang didapatkanya secara gratis. Itu berarti Wik mendapatkannya sebagai doorprizes dalam acara bedah buku yang diselenggarakan pro-U. Mulai dari buku Bikin Hidup Lebih Hidup, The Great Power of Mother, novel Bulan Tak Purnama, dan Birunya Langit Cinta.
Hunting buku gratis sebenarnya bukan sesuatu yang direncanakan Wik. Hobinya bertanya dalam sebuah forumlah yang menjadikan ide itu menjelma menjadi sebuah perburuan buku gratis di acara bedah buku. Wik melihat ide itu sebagai satu cara cerdas menambah koleksi bukunya. Apalagi Jogja merupakan kota yang rajin menyelenggarakan acara bedah buku. Dan Wik pikir, sah-sah saja ia melakukannya. Toh ketika bertanya, ia memang menanyakan sesuatu yang ingin diketahui dan penting baginya. Dari sana ia juga belajar berpikir sebelum mengajukan pertanyaan, mengendalikan diri dan emosi, belajar sportivitas dan ikhlas ketika akhirnya, setelah berusaha, sang buku pun lepas dari tangannya. Bahkan lebih dari sekali, Wik mengikhlaskan buku yang didapatnya. Pertama karena ia melihat ada yang lebih membutuhkan buku itu. Waktu itu Wik dengan ringan mengatakan kepada peserta disebelahnya,” Mau ?” sambil menyodorkan buku hasil dia bertanya. Of course, mata sang peserta itu pun langsung berbinar senang. Dapat buku gratis, siapa menolak ?
Kali kedua Wik melepas buku doorprizesnya karena Wik malu untuk mengambil buku yang telah menjadi jatahnya, apalagi ketika peserta lain begitu bernafsu untuk mendapatkan buku itu. Seperti ketika acara bedah novel Bumi Cintanya kang Abik di Jogja tahun 2010 ini. Wik masih ingat, dari jarak 100 meter ia melihat bagaimana peserta lain bersegera menuju ke arah kang Abik untuk mengambil jatah buku mereka. Wajah kang Abik tertangkap sedikit bingung bagi mata Wik, mungkin karena jatah buku yang bisa dibagi habis ( atau bahkan kurang ?), atau bingung melihat antusiasme peserta yang ‘sedikit’ ngegirisi alias mengerikan ? Wallahu’alam. Yang pasti, wajah bingung kang Abik, menjadikan Wik tidak tega untuk mengambil jatah buku bagiannya.
Well, pelajaran terpenting dari usaha mendapat buku doorprizes gratisan adalah, bagaimana menata niat kita agar tidak jatuh pada keinginan, datang ke acara bedah buku hanya untuk mendapat buku gratisan thok. Ditanggung bakalan kecewa kalau kita datang atau bertanya di acara bedah buku dengan niat hanya untuk mendapat doorprizes buku gratis. Saran Wik, niatnya tidak boleh berhenti hanya untuk dunia, tapi mesti dikaitkan untuk tujuan akherat, untuk sesuatu yang disukai Alloh. Untuk amannya, kita mesti berharap yang terbaik dan mengantisipasi yang terburuk (darimana Wik mendapat kalimat ini, ya ?). Misalnya berharap mendapat doorprizes buku gratis yang bisa nambah koleksi sehingga bisa dipinjemi ke teman-teman yang lain, bisa kita bedah dan dibikin resensi (sebagai wujud terima kasih kita ke penerbit kalau resensi kita dimuat) atau untuk hadiah ke teman. Tapi … kita mesti siap juga kalau itu buku hanya lewat di depan kita alias kita tidak mendapatkannya. Kita mesti berpikir , setidaknya dari forum seperti bedah buku, ilmu dan wawasan kita bertambah, semangat untuk menghasilkan sesuatu, berkarya, atau berprestasi yang mendatangkan kemanfaatan seperti si penulis bisa kita dapat. Ok ?
Ide Berbuah Ide
Setelah lebih dari sekali mendapat buku gratis dari acara bedah buku, ada ide lain yang muncul. Ide berawal, dari keinginan membalas kebaikan mereka yang menjadi sarana sehingga Wik mendapat buku gratis he .. he. Kemudian keinginan itu dikombinasi dengan keinginan lain untuk belajar menjadi seorang penulis. So … lahirlah ide membuat resensi dari buku-buku hasil doorprizes itu. Sayangnya, pengalaman kemudian membuktikan, Wik belum bisa optimal untuk itu. Selain ilmu dan ketrampilan belum memadai, tidak setiap buku hasil doorprizes, bisa Wik resensi. Setelah mencoba meresensi dua buku (satu buku dari doorprizes pro-U, dan satu buku bukan dari doorprizes), mengirimkannya ke koran lokal dan gagal, Wik belajar bahwa ternyata, Wik hanya akan benar-benar greget meresensi ketika buku yang Wik dapat dan kemudian Wik baca, Wik nilai bagus. Jadi, ketika Wik benar-benar mendapat sesuatu yang baru dalam buku itu, entah itu Aha, insight, inspirasi atau sesuatu yang menyentuh hati, mengubah pola pikir maka Wik akan bisa membuat resensi dengan mulus. Artinya menyelesaikan tugas resensi dengan baik. Ibarat sales, kalau tidak yakin dengan produk yang dijual, maka kalimat yang keluar dari mulutnya seakan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Begitu juga Wik. Ketika Wik bahkan tidak ingat satu pun hal yang berkesan dalam sebuah buku, maka Wik tidak (atau belum) mampu untuk mengajak yang lain agar ikut membaca buku itu. Tapi, sampai sekarang Wik masih terus belajar meresensi buku, meski sampai saat H-1 waktu lomba Menulis Pro-U ini, belum juga dimuat he … he ( terakhir meresensi novel Tasaro GK berjudul, Muhammad saw, Lelaki Pengenggam Hujan, hasil doorprizes acara resensi buku di MQ FM Jogja, 92,3 FM ).
Ide berikut adalah, Wik ingin juga suatu saat menjadi mereka yang berperan membagi buku, bukannya menerima buku, secara gratis pula. Wik telah menikmati saat-saat dimana orang lain bingung ketika tidak memiliki cukup uang untuk membeli buku di pameran buku, sementara Wik asyik memikirkan buku apa yang berpeluang untuk Wik dapat di acara bedah buku (yang biasanya menyertai acara pameran buku) sambil melihat jadual pameran. Setelah Aa’ Gym melalui kajian MQ paginya di MQ FM sangat getol mengulang-ulang pesan, sukalah menjadi mereka yang memberi dan bukannya menjadi orang yang suka untuk selalu diberi. Akhirnya, Wik jadi malu sendiri. Apalagi ketika Aa’ menyindir dengan mengatakan bahwa bagi santri DT (Darut Tauhid, pesantren tempat Aa’ mengajar), pantang untuk menerima sesuatu yang gratis. Yang gratis itu hanyalah untuk mereka yang miskin. Gubrak !!! Telak bener itu nasehat. Belum lagi ketika melihat film Laskar Pelangi yang fenomenal itu. Di sana ada sosok Pak Guru Harman yang dalam sebuah adegan yang menghentak hati mengatakan, kurang lebih,” Jadilah kalian menjadi orang yang memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain.” ( dan bukan sebaliknya, menerima sebanyaknya-banyaknya dari orang lain, asyik menjadi si tangan di bawah daripada menjadi si tangan di atas, batin Wik berkata ). Jadi … Wik pun kemudian mulai berpikir lebih. Okelah, mungkin sekarang Wik mendapat buku gratis hasil doorprizes, tapi setelah kemudian rajin meresensi buku-buku tertentu hasil doorprizes, insya Alloh, suatu saat nanti, Wik yang menjadi mereka yang duduk di panggung bedah buku dan siap untuk berbagi buku hasil karya Wik sendiri. Aamiin. Itu impian minimalis. Tolong dibantu ya, tolong dibantu doa J.
Sebagai tambahan, sampai sekarang Wik masih penasaran karena belum juga berhasil mendapat doorprizes buku karya Salim A Fillah. Oh ya, adik Wik pun juga suka mengumpulkan buku gratis hasil doorprizes. Bahkan dia lebih pintar dengan melihat peluang mendapat buku doorprizes gratis dari acara resensi buku di radio. Bahkan buku-buku hasil doorprizesnya lebih bagus dari punya Wik, seperti kalau terbitan pro-U ada 100 % Dakwah Kerennya Sofwan, Bikin Belajar Selezat Coklatnya Fatan Fantastic dan Dinda Denniz, serta Segenggam Rindu untuk Istriku-nya Dwi Budiyanto. So … ada yang tertarik mengikuti jejak kami ? Atau bahkan sudah melakukannya ? Waspadalah waspadalah, niat mesti ditata dan biasakan diri untuk tetap menjadi mereka yang suka memberi, dan bukannya mereka yang suka menerima. Sepakat ? Wallahu’alam.
Alhamdulillah, jum’at 3 Desember 2010 at warnet
Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com./2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html
Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com./2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar