Ahad, 24 Oktober dan 5 Desember 2010 ( isi sepenuhnya adalah tanggung jawab peringkas : pengelola blog ini)
Cinta adalah ketertarikan tidak logis, kurang lebih 6 bulan kemudian akan mati tanpa ada kasih sayang. Bentuk lengkap dari cinta adalah cinta kasih.
Jatuh cinta adalah tanda dariNya agar kita bersegera untuk menikah, bersegera untuk bersama. Ia adalah anugerah Alloh agar ada kelangsungan hidup manusia.
Pernikahan itu bukan pada pestanya tetapi pada saling memiliki satu sama lain. Pernikahan tidak langgeng bukan karena kurangnya cinta tetapi karena kurangnya persahabatan.
Kasih sayang adalah keputusan logis untuk melayani pasangannya, bermanfaat untuk pasangannya. Keputusan logis untuk perduli satu sama lain. Bentuk terakhir dari kasih sayang adalah memaafkan. Kualitas kasih sayang kita dinilai dari kesulitan yang kita jumpai untuk menyayangi.
Contoh : ketika melihat anak kecil yang lucu, cantik/ganteng, sehat wal afiat, maka adalah mudah bagi kita untuk mencintai dan menyayanginya. Berbedahalnya apabila yang kita hadapi adalah anak penderita down syndrome atau autis misalnya.
Kasih sayanglah yang melanjutkan cinta. Kasih sayang sendiri akan langgeng dengan adanya persahabatan. Temukan kegembiraan untuk bersama, kegembiraan bersama.
Bagi yang sedang jatuh cinta, berfikirlah.
Jangan ikatkan diri pada keadaan yang buruk.
Hebatkan diri agar pantas bagi mereka yang hebat.
Pria harus lebih logis, kuat dan gagah. Istrilah kepala rumah tangga yang sebenarnya. Suami yang memelihara keutuhannya (bagi wik ini berarti, suamilah yang harus lebih banyak mengalah dan ngemong ke istri, right ?).
Kehidupan ini sebenarnya adalah kehidupan kita. Kitalah nahkodanya. So … jadilah pemimpin kehidupan yang sebenarnya.
Jadikan perasaan dan pikiran untuk memperindah kebersamaan.
Tidak ada orang yang lebih malas dari mereka yang malas memberi makan diri sendiri.
Sebaik-baik tindakan dimuai dari keputusan yang baik.
Memuliakan kehidupan dimulai dari memuliakan diri sendiri.
Ada perceraian dan menikah lagi ? Mulailah bersungguh-sungguh seperti pada pernikahan pertama.
Untuk kebahagiaan, kita tidak bisa menghindari kebenaran.
Kebahagiaan adalah kegembiraan dalam rasa damai yang penuh kesyukuran.
Damai karena melakukan sesuatu yang seimbang.
Syukur karena mengenali semua adalah milik Alloh.
Perasaan damai akan kuat ketika kita mensyukuri yang sudah kita miliki. Damai dengan apa adanya diri kita.
Kebahagiaan/ menjadi bahagia bukanlah akhir perjalanan. Ia adalah kualitas perjalanan keseharian kita.
Orang yang tidak memiliki tidak berarti kekurangan. Begitupun mereka yang memiliki tidak berarti berlebih.
Mengertilah, siapa yang mengerti akan menjadi baiklah ia.
Memintalah, memantaskan dirilah dan menerimalah dengan kesyukuran.
Memintalah dari yang kecil, lebih besar dan kemudian mintalah yang hebat.
Serahkan yang tidak logis pada Alloh, Penguasa segala. Karena ketidaklogisan ada dalam wilayah-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar