Tampilkan postingan dengan label Artikel Ok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Ok. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

Fastabighul Khoirot


Istri Anggota Dewan Berebut Amal
Apa yang terbayang pada benak  kita mengenai pekerjaan ibu rumah tangga ? Sebuah pekerjaan monoton yang tiada habisnya, tidak mendapatkan status social yang jelas, tidk diberi imbalan materi, bahkan tunjangan para istri dari deretan gaji para suami sungguh tidak seberapa. Lalu, apa yang bisa diharapkan dari pekerjaan-pekerjaan rumah tangga ?
Tetapi tidak demikian dengan Ummu Abdullah yang saya kenal. Beliau berputra enam, bersuamikan seorang anggota legislative Daerah Tingkat I dari Partai Keadilan. Beliau senantiasa memulai pekerjaan rumah tangganya sejak pukul dua dinihari, sehingga pekerjaan rumah seperti mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, mempel, menyiapkan keperluan anak-anak sekolah, hingga memasak, telah selesai sejak shubuh menjelang. Bahkan, beliau senantiasa shalat malam dan selalu sempat membangunkan putrid sulungnya untuk shalat malam denagan makanan yang telah masak. Praktis, beliau selalu tidur hanya 4-5 jam sehari.
Pada siang hari, beliau tidak sedikit pun berhenti mengerjakan amaliyah. Dengan jumlah Sembilan majelis taklim di bawah beliau maka praktis beliau setiap hari dua kali mengisi kajian. Masya Alloh …
Lelahkah Ummu Abdullah dengan pekerjaan-pekerjaan itu ? Ia berkata kepada saya :”Sesungguhnya pekerjaan-pekerjaan rumah tangga kita adalah upaya untuk mencari eksistensi diri kita di hadapan Alloh, bukan di hadapan siapa-siapa, bukan suami, bukan anak-anak, bukan orang lain. Maka ia akan setara dengan jihad fisabilillah.”
Maha Suci Alloh. Betapa ketika seluruh muara amal kita adalah untuk-Nya, pekerjaan apa pun menjadi besar, walalu secara pandang dunia tampak kecil, seperti pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang senantiasa dianggap remeh oleh sebagian besar teman-teman yang menyebut diri feminis.
Berebut mal. Berapa kalikah kita belajar tentang banyaknya pahala amal shalih ? Bagaimanakah selama ini kita mempelajari arti amal shalih ? Tentu kita sudah menghafal hadits Rasul yang mengatakan bahwa menyingkirkan duri di jalan pun adalah sedekah (amal shlaih), tetapi sudahkah kita mengambil kesempatan untuk memperebutkannya ?
Maka dengarlah nasihat Ummu Abdullah pada putranya :
Suatu kali, Abdullah selesai makan, berbarengan dengan adik-adiknya. Seperti biasa, kemudian mereka mencuci piring amsing-masing. Tetapi, ternyata ada salah satu dari adik Abdullah yang tidak mencuci pirirng kotor bekas makannya. Maka, saat itu, Ummu Abdullah berkata :”Kakak, tolong cuci piring ini. Ummi masih ngepel.”
“Ah, piring kotor itu bukan bekas makanku, Ummi,” jawab Abdullah.
Maka sang Ummi berkata,”Dengarlah, nak, sesungguhnya amal adalah sesuatu yang harus diperebutkan. Semakin banyak kita mengerjakan amal maka yakinlah bahwa kita akan lebih dimudahkan oleh-Nya …”
Izzatul Jannah dalam buku Bukan Negeri Dongeng hlm 25-27

Minggu, 08 Mei 2011

Segala Sesuatu Itu Mungkin

Segala Sesuatu Itu Mungkin

            Craig Fransisco sadar bahwa dia bukan Arnold Palmer. Sesungguhnya ia harus melakukan banyak perbaikan dalam permainan golfnya. Ia hampir kewalahan, ia sendiri heran bahwa ia pernah menjadi anggota tim golf.
            “Kupikir, aku tak akan pernah menjadi pemain yang sangat baik,” katanya. “Karena itu, aku bahkan tak pernah berlatih.” Tetapi suatu terobosan mental mengajarinya, betapa besar kekuatan yang ada dalam pikirannya. Hasilnya adalah pemain golf yang sangat berkembang.
            Terobosan ini terjadi selama masa pelatihan di mana ia belajar menggunakan tangan kosong untuk mempertahankan papan setebal satu inci. Sebelum memulainya, ia diminta menulis di papan tersebut rintangan yang ingin “diterobosnya” supaya ia dapat memperoleh hasil yang lebih dalam hidup.
            Craig tahu bahwa tak secara sadar, ia menghindarkan dirinya dari berbagai hal dengan mengatakan pada dirinya bahwa ia tak mampu melakukannya. Karena itu, di papannya ia menulis pikiran “bahwa sadar.” Seperti yang lainnya, ketika ia berhasil mematahkan papan itu, ia merasa kegembiraan atas keberhasilan yang luar biasa ini.
            “Segera setelah aku berhasil melakukannya, aku tahu aku dapat melakukan apapun yang ingin kulakukan. Tak ada yang merintangiku.”
            Ia pulang ke rumah dan menggeluti permainan golfnya selama sisa musim panas itu. Upaya ini membawa timnya ke peringkat pertama dalam liga daerah, dan liga wilayah itu pada tahun berikutnya. Kenyataannya mereka mendapatkan peringkat keenam di seluruh Ohio. Craig Fransisco, yang pada mulanya menganggap dirinya pemain golf yang buruk, adalah pemain golf terbaik di timnya dan terpilih sebagai pemain yang termahal. Atas namanya sendiri, ia memenangkan 11 piala pada musim itu, dan ia membantu timnya memenangkan 9 piala lagi.
            “Aku benar-benar belajar untuk percaya pada diriku, dan bahwa segala sesuatu itu mungkin kalau aku memfokuskan pikiranku.” Bagi Craig, sikap positif memberikan semua perubahan ini.
            (Memupuk Sikap Juara, hlm.103, Quantum Learning)
Sukses merupakan keadaan pikiran (Joyce Brother)
 
 

Kekuatan Pikiran Yang Tak Terbatas

            Anthony Robbins, seorang ahli strategi penampilan, penulis, dan penceramah telah membantu ribuan orang untuk menerobos keyakinan mereka yang sangat sempit dan menyingkap kemampuan mereka yang luar biasa. Tujuan Tony adalah mecontohkan praktik-praktik dari penampilan tokoh-tokoh terkemuka, orang-orang yang selalu melahirkan hasil-hasil yang berkualitas. Ia menemukan keyakinan inti mereka dan membentangkan strategi-strategi yang membuatnya sangat efektif. Kemudian ia mengajarkan keyakinan dan strategi ini kepada sekelompok orang.
            Salah satu aktivitas yang diajarkan Tony kepada siswa-siswinya adalah berjalan di atas api. Dengan sebuah papan  penuh arang membara, pada siswa tanpa alas kaki dibimbing untuk melintasi papan. Ia menggunakan konsep-konsep program neurolinguistik (NLP) untuk membantu mereka menyelesaikan tugas luar biasa ini. NLP, studi tentang bagaimana bahasa verbal dan nonverbal yang mempengaruhi sistem syaraf kita, dikembangkan oleh John Grider dan Richard Bandler.
            Salah satu contoh favorit Tony untuk menunjukkna kehebatan metode ini adalah Stu Mittleman. Stu. M memecahkan rekor dunia dengan berlari 1.000 mil hanya dalam waktu 11 hari. Stu mencontoh keyakinan sekelompok orang Indian di Amerika Selatan. Mereka telah berlari 75 mil sehari hanya untuk kegembiraan. Hal itu mereka lakukan sebagai bagian dari sebuah perayaan.
            Dengan menemukan seseorang  yang telah mencapai apa yang kita inginkan, dan kemudian mencontohnya, kita tidak hanya menghemat energi, tetapi juga waktu. Apa yang ingin kita lakukan dalam hidup kita? Rintangan-rintangan apa yang harus kita atasi? Ingin seperti siapakah kita? Temukan sesorang yang mewujudkan impian kita. Lalu melangkahlah dan tirulah perilaku mental dan fisiknya, dan keberhasilan akan menjadi milik kita.
            (dikutip dengan modifikasi dari Kekuatan Pikiran yang tak terbatas, hlm. 43, Quantum Learning oleh Bobbi dePorter dan Mike Hernacki)


Jikalau kamu percaya bahwa kamu bisa-kamu pasti bisa (Maxwell Maltz)
 
 


Dari 1 Jam Menjadi 20 Menit

            Instruktur membaca, Steven Snyder pernah membaca 14 buku dalam suatu penerbangan antara Los Angeles-Sidney, Australia. Dengan menggunakan teknik yang dikembangkannya, ia biasanya membaca 3-4 buku fiksi ataupun non fiksi dalam satu malam. Kecepatan membacanya ini kecepatan yang biada (jogging speed). Kecepatan sprintnya adalah sekitar 10 ribu kata per menit.
            Sebagian orang tidak yakin bahwa ia dapat memahami apa yang dibacanya dengan kecepatan tersebut. Karena itu, Steve menyamakan kecepatan membaca dangan bermain ski. “Kalau Anda bermain ski dengan tenang dan perlahan-lahan, Anda tidak perlu terlalu memperhatikan apa yang sedang Anda lakukan. Pikiran Anda akan berkeliaran ke mana-mana. Tetapi jika Anda bergerak dengan sangat cepat menuruni lembah, Anda harus memusatkan perhatian.” Itulah sebabnya, Anda sebenarnya akan memahami bacaan Anda secara lebih baik kalau Anda membacanya dengan cepat, katanya.
            Kita dapat mendorong diri kita untuk membaca lebih cepat dan lebih cepat lagi, satiap orang dapat melakukannya. Tetapi, adakalanya kita kehilangan pemahaman dan kita harus mundur kembali. Beberapa bahan juga harus dibaca dengan sangat perlahan, menurut pendapatnya, seperti puisi, drama, dan segala sesuatu yang ditulis untuk didengar, bukan untuk dilihat.
            Kariernya sebagai guru membaca cepat dimulai pada 2 tahun ketika ibunya, seorang pecinta buku mengajarinya membaca. Ketika ia mulai bersekolah di kelas satu, ia telah membaca sebanyak 400 buku, termasuk novel-novel Mark Twain, Jules Verne dll. Yang ditulis untuk anak-anak SMU.
            Pada usia 12 tahun, ibunya mengizinkannya untuk mengambil kursus membaca cepat popular, tetapi ia kecewa dengan metode yang diajarkan. “Sulit sekali itu, dan tak ada kesenangan di dalamnya.” kenang Steve. Karena itu, ia memutuskan untuk mengembangkan metodenya sendiri. Itulah saat ia muncul dengan tekni-teknik yang kini diajarkannya di SuperCamp. Pada usia 15 tahun, ia mulai mengajarkan teknik-teknik ini pada kawan-kawan sekolahnya, yang menemukan bahwa mereka dapat mengurangi waktu 1 jam untuk mengerjakan PR mereka menjadi 20 menit! Kini ia mengejar dalam seminar-seminar di seluruh dunia dengan menggunakan metode-metode yang sama dengan yang pertama kali dikembangkannya pada masa kanak-kanak.
(dikutip dari Melaju dengan Kekuatan Membaca, hlm. 269 Quantum Learning oleh Bobbi dePorter dan Mike Hernacki)
Kalau kita melakukan semua hal yang bisa kita lakukan, secara harfiah kita akan mengejutkan diri kita sendiri (Thomas A. Edison)
 
 

Selasa, 05 April 2011

Kunci Sukses Itu Bernama Sikap Positif

Saya Bertekad Mengalahkan Dunia

Nama Teyonka Parker dicantumkan sebagai salah satu anggota Tim Bintang versi USA Today pada bulan Mei 1996. Ia lulus dari California Academy of Mathematic and Science dengan nilai rata-rata 3, 86 dan bermaksud melanjutkan studi ke Stanford University yang bergengsi. Teyonka juga dikenal karena karya nyatanya bagi kaum muda di kotanya dan kepemimpinannya dalam organisasi di sekolahnya.

Tetapi, keberhasilan gadis ini selama di SMU hanya dapat dihayati bila kita juga mengetahui apa saja yang harus dan berhasil diatasinya. Ibunya seorang pecandu obat bius, sehingga Teyonka secara bergantian diurus oleh kerabat-kerabatnya, dan harus berpindah-pindah dari Mississippi, San Diedo, Chicago dan akhirnya ke Los Angeles. Dari tiga kakak lelakinya, dua harus mendekam di penjara karena terlibat kasus obat bius sewaktu Teyonka masih duduk di kelas terakhir SMU. Menurut mereka yang dekat dengannya, yang membedakan Teyonka dari anak-anak kurang beruntung lain yang jauh kurang berhasil adalah sikapnya – ia memiliki tekad yang membaja untuk berhasil. Bagi Teyonka, kemalangan juga musush yang harus dikalahkan. DI Los Angeles, 15 April 1996 ia member penejelasan kepada wartawan. Katanya,” Kalau saja waktu kecil saya disuapi dengan sendok perak, saya tidak akan mempunyai tantangan untuk saya hadapi. Saya akan santai-santai saja, tidak berusaha keras seperti sekarang.” Tetapi, tidak ada kata-kata yang lebih jelas disbanding baris terakhir dalam surat permohonannya untuk diterima di Stanford. Teyonka Parker dalam surantya mengatakan,” Dengan modal ketekunan, rasa tanggung jawab dan kemauan, saya bertekad mengalahkan dunia.”
( dikutip dengan modifikasi dari Keuntungan Optimisme hlm 104, Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak, Lawrence E. Shapiro, Ph. D)

” Dengan modal ketekunan, rasa tanggung jawab dan kemauan, saya bertekad mengalahkan dunia.”( Teyonka Parker)

Kekuatan Pikiran yang tak Terbatas

Anthony Robbins, seorang ahli strategi penampilan, penulis, dan penceramah telah membantu ribuan orang untuk menerobos keyakinan mereka yang sangat sempit dan menyingkap kemamuan mereka yang luar biasa. Tujuan Tony adalah mencontohkan praktik-praktik dari penampilan tokoh-tokoh terkemuka, orang-orang yang selalu melahirkan hasil-hasil yang berkualitas. Ia menemukan keyakinan inti mereka dan membentangkan strategi-strategi yang membuatnya sangat efektif. Kemudian ia mengajarkan keyakinan dan strategi ini kepada sekelompok orang.

Salah satu aktivitas yang diajarkan Tony kepada siswa-siswanya adalah berjalan di atas apai. Dengan sebuah papan penuh arang membara, para siswa tanpa alas kaki dibimbing untuk emlintasi papan. Ia menggunakan konsep-konsep program neurolinguistik (NLP) untuk membntau mereka menyelesaikan tugas luar biasa ini. NLP, studi tentang bagaimana bahasa verbal dan nonverbal yang memperngaruhi system syaraf kita, dikembangkan oleh John Grider dan Richard Bandler.
               
Salah satu contoh favorit Tony untuk menunjukkan kehebatan metode ini adalah Stu Mittleman. Stu M memecahkan rekor dunia dengan berlari 1.000 mil hanya dalam waktu 11 hari. Stu mencontoh keyakinan sekelompok orang Indian di Amerika Selatan. Mereka telah berlari 75 mil sehari hanya untuk kegembiraan. Hal itu mereka lakukan sebagai bagian dari sebuah perayaan.
                 
Dengan menemukan seseorang yang telah mencapai apa yang kita inginkan, dan kemudian mencontohnya, kita tidak hanya menghemat energy, tetapi juga waktu. Apa yang ingin kita lakukan dalam hidup kita ? RIntangan-rintangan apa yang harus kita atasi ? Ingin seperti siapakah kita ? Temukan seseorang yang mewujudkan impian kita. Lalu melangkahlah dan tirulah perilaku mental dan fisknya – dan keberhasilan akan menjadi milik kita.
                (dikutip dengan modifikasi dari Kekuatan Pikiran yang tak Terbatas, hlm 43, Quantum Learning oleh Bobbi dePorter dan Mike Hernacki)

Jikalau kamu percaya bahwa kamu bisa– kamu pasti bisa ( Maxwell Maltz)

Kunci Sukses Itu Bernama Sikap Positif

Sukses bukanlah monopoli orang kaya. Siapap pun orangnya bias sukses. Anak orang kaya menjadi sukses sudah sewajarnya, karena ia padat fasilitas dan kesempatan. Anak miskin sukses, itu suatu keharusan. Disebut keharusan karena semua orang miskin harus bangkit, kerja keras dan segera meninggalkan kemiskinannya.
                 
Alasan ekonomi, kemiskinan, tidak bias menghalangi seseorang untuk menjadi sukses. Apabila keiskinan menyebabkan ketidaksuksesan, tidak aka nada cerita seorang Andrie Wongso, seorang lulusan SD kemudian menjadi pengusaha sukses di Amerika Serikat dan motivator nomor wahid di Indonesia ; tidak aka nada cerita Jonathan L parapak yang hanya memakai sandal ketika di kelas 2 SMA, pernah menjabat sebagai direktur utama PT Indosat; tidak aka nada cerita mas Agung ( almarhum si pedagang asongan akhirnya menjadi seorang pengusaha terkenal, pemilik took buku Gunung Agung.
                 
Apabila kemiskinan menyebabkan ketidaksuksesan, tidak ada cerita Waidi anak petani miskin dari sebuah desa di Gombong, sempat belajar manajemen di University of Leicester, UK. Tidak aka nada pula cerita Prof. Dr. Haryono Suyono, mantan Menko Kesra dan Taskin yang mengaku seumur hidup pendidikannya didukung dari beasiswa ke beasiswa.
                 
Kesuksesan tidak datang begitu saja. Semakin berliku jalan menuju kesuksesan, semakin kita tertantang, semakin gigih kita berjuang, akan semakin dewasa jiwa kita. Lebih dari itu, kita semakin banyak memperoleh ketrampilan hidup. Soichiro Honda, penemu mesin Honda, adalah siswa miskin yang bercita-cita mendesain piston Toyota. Dalam usaha kerasnya, tangannya menderita cacat. Uang dan perhiasan istrinya habis digunakan untuk membuat rancangan piston tersebut. Meski demikian, hasil rancangannya ditolak oleh pabrik mobil Toyota. Ia tidak menyerah, terus saja ia berusaha sehingga akhirnya desain piston hasil karyanya laku keras di pasaran seperti sekarang.
                 
Modal utama sukses adalah gairah hidup. Kemauan kuat untuk sukses, menyukai tantangan, hobi menghadapi kesulitan, berani untuk gagal, tekun dan berdisiplin tinggi. Semuanya digabung menjadi satu dan bernama sikap positif !
                ( dimodifikasi dari tulisan Bapak Waidi, alumni Univ terbuka dan Universitas of Leicester, UK. Sekarang bekerja di Unsoed. Diambil dari majalah Gemari edisi 21/th II/Oktober 2002)

Kebanyakan dari kita belum sepenuhnya menyadari bahwa hidup adalah perjuangan.Tiada hidup tanpa perjuangan.Pengorbanan (diukur dari kualitas perjuangannya) adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah kesuksesan 
( Reza “Supertrainer’ M Syarief)

Persembahan blog www.qonitat4171.blogspot.com untuk terciptanya surga di dunia sebelum surga rahmatNya. Jum'at 1 April 2011

Minggu, 27 Februari 2011

Bundaku Tuna Netra

Pengalaman Pribadiku
Rintangan tak dapat menghancurkanku. 
Setiap rintangan akan menyerah pada ketetapan hati yang kukuh. 
(Leonardo da Vinci. Annida no 10 th IX/1-14 Maret 2000)

“Mama tidak tahu benar seperti apa dan bagaimana kami, bukan ?” Dia meraba rambutku untuk mengetahui seberapa panjangnya.
”Tentu saja saya tahu,” jawabnya.
“Saya tahu seperti apa kamu pada hari mereka meletakkan tubuhmu yang mungil di kedua tangan saya untuk pertamakalinya. Saya merasakan setiap inchi tubuhmu dan rambut lembut di kepalamu. Saya tahu bahwa rambutmu pirang karena ayahmu memberitahu saya. Saya tahu bahwa matamu biru karena mereka memberitahu saya begitu. Saya tahu bahwa kamu sangat cantik karena banyak orang mengatakan demikian. Tetapi saya benar-benar tahu seperti apa kamu – seperti apa hatimu.”
Kedua mataku berlinang.
“Saya tahu bahwa kamu lentur dan kuat karena kamu senang bermain tenis. Saya tahu bahwa kamu memiliki sifat yang baik karena saya mendengarmu bicara dengan kucing dan kepada anak-anak kecil. Saya tahu kamu mudah terluka karena saya telah melihat reaksimu yang menunjukkan kamu sakit hati terhadap kata-kata kasar yang diucapkan oleh seseorang. Saya tahu kamu mempunyai karakter karena kamu mempunyai keberanian untuk mengatakan dan mempertahankan keyakinanmu. Saya tahu bahwa kamu mempunyai rasa hormat pada orang lain dari caramu memperlakukan saya. Saya tahu bahwa kamu mempunyai kebijaksanaan karena kamu bertindak dengan bijaksana untuk seorang gadis seusiamu. Saya juga tahu bahwa kamu bias marah-marah, yang memberitahu saya bahwa tak seorang pun bisa mencegahmu melakukan hal yang benar. Saya tahu bahwa kamu mempunyai devosi yang besar pada keluarga karena saya mendengar kamu membela saudara-saudaramu. Saya tahu bahwa kamu mempunyai kapasitas yang besar untuk mencintai karena kamu telah menunjukkannya pada saya dan kepada ayahmu berkali-kali. Dengan cara apa pun kamu tidak pernah menyatakan bahwa kamu tidak beruntung karena mempunyai seorang ibu yang buta. Jadi, sayang,” dan dia menarikku lebih dekat padanya,”saya melihatmu dan saya tahu persis seperti apa dirimu, dan bagi saya kamu sangat cantik.” (Karrey Janvrin Lindenberg, Pengalaman Pribadiku, 4th Course of Chicken Soup for The Soul)
- Kebanyakan dari kita belum sepenuhnya menyadari bahwa hidup adalah perjuangan. Tiada hidup tanpa perjuangan. Pengorbanan (diukur dari kualitas perjuangannya) adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah kesuksesan. (Reza ‘Supertrainer’ M Syarief) - 

Menang
Ibunya menceritakan kisah itu kepada kami keesokan harinya.
Waktu itu Kenneth duduk di bangku sekolah menengah pertama danmerasa senang sert antusias sekali untuk ikut sert dalam kegiatan Special Olympics selama satu hari. Ketika kedua orangtuanya melihatnya penuh harapa dari tempat duduk penonton, dia berlari, dan menang, menjadi juara pertama. Dia merasa bangga akan pitanya dan sorak-sorai dari semua yang menyaksikan lomba tersebut.
                Dia mengikuti lomba lari yang kedua. Persis di garis finish, ketika sekali lagi dia akan memenangkan pertandingan, dia berhenti, lalu berjalan keluar dari lintasan. Dengan lembut kedua orangtuanya bertanya kepadanya,”Ada apa, Kenneth ? Kalau kamu terus berlari, kamu akan memenangkan satu lomba lagi.”
                Dengan polos Kenneth menjawab,”Tetapi, Mam, Saya sudah memperoleh sebuah pita. Sedangkan Billy belum memilikinya.”
                (Clifford dan Jerie Furness, 4th Chicken Soup for the Soul)
Apa yang kamu simpan untuk dirimu sendiri akan lenyap, apa yang kamu berikan pada orang lain akan kamu miliki selamanya (Axel Munthe)
Kamu tidak pernah benar-benar kalah hingga kamu berhenti mencoba (Mike Ditka, pelatih sepakbola NFL)

Kekuatan Pikiran yang Tak Terbatas
Anthony Robbins, seorang ahli strategi penampilan, penulis, dan penceramah telah membantu ribuan orng untuk menerobos keyakinan mereka yang sangat sempit dan menyingkap kemampuan mereka yang luar biasa. Tujuan Tony adalah mencontohkan praktik-praktik dari penampilan tokoh-tokoh terkemuka, orang-orang yang selalu melahirkan hasil-hasil yang berkualitas. Ia menemukan keyakinan inti mereka dan membentangkan strategi-strategi yang membuatnya sangat efektif. Kemudian ia mengajarkan keyakinan dan strategi ini kepada sekelompok orang.
Salah satu aktivitas yang diajarkan Tony kepada siswa-siswanya adalah berjalan di atas apai. Denga sebuah papan penuh arang membara, para siswa tanpa alas kaki dibimbing untuk melintasi papan. Ia menggunakan konsep-konsep program neurolinguistik (NLP) untuk membantu mereka menyelesaikan tugas luar biasa ini. NLP, studi tentang bagaimana bahsa verbaldan nonverbal yang memepengaruhi system syaraf kita dikembangkan oleh John Grider dan Richard Blinder.
Salah satu contoh favorit Tony untuk menunjukkan kehebatan metode ini adalah Stu Mittleman. Stu Mittleman memecahkan rekor dunia dengan berlari 1.000 mil hanya dalam waktu 11 hari. Stu mencontoh keyakinan sekelompok orang Indian di Amerika Selatan. Mereka telah berlari 75 mil sehari hanya untuk kegembiraan. Hal itu nereka lakukan sebgai bagian dari sebuah perayaan.
Dengan menemukan seseorang yang telah mencapai apa yang kita inginkan, dan kemudian mencontohnya, kita tidak hanya menghemat energi, tetapi juga waktu. Apa yang ingin kita lakukan dalam hidup kita ? Rintangan-rintangan apa yang harus kita atasi ? Ingin seperti siapakah kita ? Temukan seseorang yang mewujudkan impian kita. Lalu melangkahlah dan tirulah perilaku mental dan fisiknya dan keberhasilan akan menjadi milik kita.
(dikutip dengan modifikasi dari Kekuatan Pikiran yang Tak Terbatas, hlm. 43, Quantum Learning oleh Bobbi dePorter dan Mike Hernacki)
Jikalau kamu percaya bahwa kamu bisa-kamu pasti bisa (Maxwell Maltz)

Rabu, 29 Desember 2010

Universitas Kehidupan di Meja Makan


Keluarga adalah dunia kecil tempat di mana manusia mempelajari dasar-dasar kehidupan. Dan untuk itu ukuran dan kemewahan tidak menjadi ukuran. Pelajaran hidup bias didapat di keseharian, dalam sebuah ritual sederhana, misalnya makan malam. Leo F. Buscagila, seorang professor di AS, menuangkan kenangan tentang ayahnya dalam buku Papa My Father. Berikut petikannya.
                Ketika ayah mulai tumbuh dewasa, dunia sedang berada pada pergantian abad. Pada masa krisis semacam itu, pendidikan hanya milik mereka yang berharta, sementara ayah hanyalah anak petani miskin. Di kelas lima sekolah dasar, beliau berhenti sekolah disertai protes dari gurunya. Ayah kemudian bekerja di pabrik. Sejak saat itu kehidupan menjadi sekolah dan tempat belajarnya.
                Hasrat yang besar untuk belajar serta keingintahuannya terhadap dunia luar membawanya menyeberangi lautan, berimigrasi ke Amerika. Sejak itu ia memutuskan bahwa tak seorang pun anaknya yang tidak tersentuh pendidikan.
                Ayah percaya, bahwa dosa terbesar bagi seorang manusia adalah pergi tidur di malam hari sebagai orang dengan pengetahuan yang sama ketika bangun pagi. “ Ada begitu banyak hal untuk dipelajari,” katanya, “Meskipun manusia dilahirkan bodoh, hanya orang bodoh yang akan tetap begitu.”
                Untuk menumbuhkan kecintaan akan pengetahuan, ayah mengharuskan kami untuk setidaknya belajar satu hal baru setiap hari. Makan malam adalah forum yang tepat untuk berbagi apa yang telah kami pelajari hari itu. Sebagai anak kecil, kami menganggap ini sinting belaka. Dibanding orang tua lain pada umumnya, ayah jelas-jelas aneh.
                Biasanya, sebelum makan malam, kami, anak-anak, akan saling berbisik “Apa yang kamu pelajari hari ini?” Jika jawabannya adalah ‘tidak ada”, kami tidak akan pernah berani pergi makan tanpa sebelumnya berkutat membaca ensiklopedi tua milik keluarga, menenlisiknya sampai menemukan fakta yang bisa kami bawa. Dan, … ini dia ! “Penduduk Nepal berjumlah … “
                Makan malam bagi kami adalah saat yang bising dan ramai. Setiap informasi, tidak peduli betapapun remehnya, akan didengar dengan serius. Ayah dan ibu selalu siap dengan tanggapan. Kadang erupa dukungan ataupun analisa, dan semua diungkapkan secara terbuka.
                Akhirnya saatnya tiba. Saatnya untuk berbagi apa yang kami pelajari hari ini. Ayah, di kepala meja, menyalakan sebatang rokok Italia, menatap kami satu persatu. Ia seiring berkata bahwa ini dilakukan karena ayah yakin bahwa kami akan tumbuh cepat dan ayah tidak ingin kehilangan setiap momen pertumbuhan kami.
                Akhirnya pandangannya akan jatuh pada salah seorang dari kami. “Felice,” katanya, memanggil nama kecil saya. “Coba beritahu Ayah, apa yang kamu pelajari hari ini ?”
                “Mmmh, penduduk Nepal itu berjumlah … “
                “Jumlah penduduk Nepal. Hmmm … “ Dia kemudian bertanya pada Mama,”Mama tahu hal tersebut ?”
                Mama, yang menjadi penghangat suasana menjawab,”Nepal ? Jangankan penduduknya, dimana Tuhan meletakkan negeri itupun, Mama tidak tahu.”
                “Felice,” katanya, “Ambil atlas supaya kita bisa menunjukkan pada Mama, dimana itu Nepal.” Dan seluruh keluarga pun terlibat dalam pencarian Nepal, mengupas segala informasi tentang Nepal yang dapat kami temukan. Hal yang kurang lebih sama selalu terulang setiap kali tiba giliran pada anggota keluarga yang lain. Tidak pernah ada makan malam yang berakhir tanpa sebuah pengetahuan baru tentang sesuatu.
                Bertahun kemudian, dalam sebuah retropeksi saya menyadari kedinamisan teknik yang diterapkan ayah pada kami. Tanpa kami sadari, keluarga kami tumbuh bersama, berbagi pengalaman, dan berpartisipasi dalam pendidikan satu sama lain. Dengan menatap kami, mendengarkan, menghargai pendapat kami, meneguhkan norma-norma yang kami yakini, danmenumbuhkan harga diri kami, ayah jelas guru yang sangat berpengaruh bagi anak-anaknya.
                “Berapa lama kita hidup, itu terbatas,” ujarnya selalu. “Tapi seberapa banyak yang bisa kita pelajari tidak terbatas. Kita adalah apa yang kita pelajari.” Dan setiap malam sebuah pertanyaan akan tergiang di telinga saya,”Apa yang kamu pelajari hari ini ?” (att-disadur dari Reader’s Digest, diketik ulang oleh dew dari majalah B-Family no. 1/Tahun I/Maret 2003)
               


Sabtu, 18 Desember 2010

Pantang Mati Sebelum Ajal


Andy`s Corner, diambil dari www.kickandy.com
Senin, 10 Mei 2010 23:21:00 WIB
Pantang Mati Sebelum Ajal
Saya menahan nafas dan hampir tak tahan melihat wajah Pepeng yang meringis menahan sakit. Setiap kali kursi roda yang diduduk Pepeng digeser, mantan presenter kondang ini terlihat menahan rasa sakit yang tak terhingga. Padahal pergeseran kursi roda itu sudah dilakukan dengan sangat hati-hati.
Tidak mudah “menggotong” Pepeng agar bisa tampil di acara Kick Andy. Selain tubuhnya yang tinggi besar terasa sangat berat, Pepeng juga tidak bisa turun dari kursi roda. Maka dibutuhkan empat orang untuk membantu Pepeng naik ke atas panggung bersama kursi rodanya.
Jujur saja, tim Kick Andy sempat merasa bersalah karena “memaksa” Pepeng untuk bisa tampil di Kick Andy. Sejak rapat perencanaan, faktor kesulitan mengajak Pepeng ke studio sebenarnya sudah menjadi perhatian kami. “Setiap guncangan kecil saja sudah menyebabkan sakit yang luar biasa. Jadi perlu dilakukan dengan sangat hati-hati jika Pepeng dibawa dari rumah ke studio,” begitu informasi yang kami terima dari tim Kick Andy yang bertugas menjemput Pepeng.
Bukan itu saja persoalan yang harus kami hadapi. Karena Pepeng tidak bisa turun dari kursi roda, maka mobil yang mengangkut mantan presenter program televisi “jari-jari” ini juga harus mobil khusus. Ternyata tidak mudah mencari mobil dengan fasilitas hidrolik agar kursi roda bisa naik dan turun dengan mudah. Untung akhirnya mobil khusus tersebut didapat juga.
Jangan membayangkan mobil yang nyaman. Sebab mobil khusus tersebut tak lebih dari sebuah bus mini tanpa tempat duduk. Maklum bus tersebut memang dirakit khusus untuk para pengguna kursi roda. Saya merasa tidak sampai hati manakala mendengar cerita bagaimana istri dan keluarga Pepeng, yang ingin menemani Pepeng ke studio, terpaksa membawa kursi sendiri untuk bisa duduk di bus tersebut.
Dengan penuh perjuangan akhirnya Pepeng sampai juga di studio. Sejak turun mobil, naik lift, sampai di atas panggung Pepeng harus menahan sakit yang tak terperi. Tetapi, begitu kamera menyala dan penonton bertepuk tangan, saya melihat wajah pepeng begitu sumringah. Rasa sakit yang mendera seluruh fisiknya seakan lenyap tanpa bekas sedikit pun.
Dengan penuh percaya diri, ceria, dan tak ada kesan meratapi nasibnya, Pepeng lalu membagi cerita perihal penyakitnya kepada penonton di studio. Rekaman berjalan lancar dan bahkan penuh sendau gurau. Sungguh di luar dugaan.
Kick Andy memang mengangkat topik para penyandang penyakit-penyakit langka. Penyakit yang diderita Pepeng, multiple schlerosis (MS), tergolong penyakit langka karena sampai saat ini belum ditemukan obat penyembuhnya. Sudah lama saya ingin mengangkat topik ini. Salah satu yang ingin saya undang sebagai nara sumber adalah Pepeng. Tetapi, saya ragu. Mampukah Pepeng hadir di studio?
“Tiga tahun lamanya saya bermimpi bisa mengajak Pepeng keluar dari rumah. Baru sekarang mimpi itu terkabul,” ujar Tamy, sang istri. Ucapan tersebut membuat saya tersadar. Tak terasa sudah tiga tahun lebih Pepeng menghilang dari peredaran. Selama itu pula dia harus bertahan dari penyakit yang membuatnya lumpuh.
Bisa kita bayangkan bagaimana menderitanya seseorang yang selama ini dikenal sangat aktif, tiba-tiba luruh tak berdaya di atas kursi roda. Sulit membayangkan Pepeng yang selalu ceria dalam setiap program televisi yang dibawakannya, tiba-tiba harus terkungkung dalam kamar yang disebutnya “goa”.
Tidak semua orang siap menghadapi kondisi seperti yang dihadapi Pepeng. Perlu semangat yang luar biasa untuk bisa bertahan. “Saya berusaha berdamai dengan penyakit saya,” ujar Pepeng. Dia mengaku rasa nyeri yang menyerang sekujur tubuhnya dalam setiap helaan nafasnya itu, dia kendalikan dengan kesadaran penuh.` “Saya yang mengambil alih pimpinan. Bukan penyakit saya,” ujarnya penuh semangat.
Apa yang membuat Pepeng begitu tegar? “Saya pantang mati sebelum ajal,” ujarnya mantap. Selain itu, diakuinya faktor dukungan istri dan anak-anaknya sangat membantu dalam menghadapi hari-hari yang penuh penderitaan fisik.
Pepeng menyadarkan kita semua tentang arti hidup. Dalam kondisi seperti itu Pepeng tetap optimistis menghaapi mas depan. Bukan saja dia pantang menyerah menghadapi penyakitnya, tetapi dalam kondisi yang sangat terbatas itu dia tetap menyelesaikan kuliah psikologinya untuk meraih gelar S2. Di sela-sela waktunya Pepeng juga masih menyempatkan diri untuk menulis. Termasuk merintis pembentukan komunitas penyandang MS. Komunitas yang dibentuk agar sesama penyandang MS bisa saling memberi info mutakhir tentang penyakit tersebut dan juga saling menguatkan.
Pepeng membuat kita tersadar banyak di antara kita yang sehat dan masih kuat, ternyata begitu mudah menyerah, lembek, dan kurang mensyukuri hidup. Kita mudah menyerah ketika dihadapkan pada cobaan hidup. Kita lembek ketika dihadapkan pada tantangan. Kita kerap mengeluh bahwa Tuhan tidak adil hanya karena mencobai kita. Padahal cobaan tersebut sepele dan tidak sebanding dengan apa yang dihadapi Pepeng dan juga narasumber lain yang hadir di Kick Andy waktu itu..
Simak saja cobaan hidup yang dihadapi Christian Simanjuntak yang kehilangan delapan jari tangannya karena harus diamputasi akibat penyakit yang disandangnya. Begitu juga Ghina. Sejak lahir Ghina sudah dihadapkan pada penyakit yang membuat tulang tengkorak wajahnya harus ditarik milimeter demi milimeter selama lebih dari dua bulan.
Penderitaan Ghina tidak sampai di situ. Agar bola matanya tidak copot, maka kelopak matanya dijahit. Itu pun belum selesai karena masih ada beberapa operasi yang harus dihadapi bocah yang kini berusia 14 tahun ini. Termasuk agar pendengarannya bisa normal.
Jangankan mengeluh, Ghina justru menunjukkan prestasi dan usaha belajar yang luar biasa. Bahkan dengan kondisi seperti itu Ghina berhasil menerbitkan sebuah buku berupa catatan hariannya dengan ulustrasi gambar yang dibuatnya sendiri.
Awalnya, sewaktu mengangkat topik “penyakit Langka”, saya ingin agar masyarakat waspada menghadapi penyakit yang tidak diketahui asal usul dan obat penangkalnya. Tetapi, ketika topik itu akhirnya diangkat di Kick Andy, ada hal lain yang lebih besar yang saya temukan. Saya baru menyadari para narsumber yang hadir bukan saja sedang membagikan pengetahuan tentang penyakit yang mereka sandang, tetapi mereka juga sedang membagikan semangat pantang menyerah yang luar biasa.

Jumat, 10 Desember 2010

Kesetiaan

Bertahanlah untuk tetap Setia
Ada seekor burung betina tertabrak mobil karena terbang menukik terlalu rendah. Ia terkapar tak berdaya. Beberapa kali, dgn penuh cinta, sang jantan membawakan kekasihnya amakanan. Lagi, ia membawakan makanan tapi sang betina telah meninggal.
Jantan itu mencoba menggerakkan tubuh pasangannya untuk emamstikan aopa yang terjadi. Sadar bahwa belahan hatinya telah tiada dan tak akan kembali, ia berkicau keras meratapi pkepergian pasangannya, tanpa bernajak dari jasad kaku sang kekasih.
Jutaan orang di dunia menangis usai melihat rangkaian gambar yg dibidik seorang wartawan ini. Dimulai saat si betina tertabrak, diberi makan berkali-kali oleh pasangannya, sampai tak bergerak lagi. Si wartawan menjual foto-foto terebut ke salah satu Koran terbesar di Perancis. Seluruh ekslempar Koran tersebut habis terjual ketika gambar-gamabra ini dimuat.
Kesetiaan memang menyentuh relung hati, tak perduli siapa pelakunya. Bahkan, kisah Hachiko, anjing yg sangat setia menanti tuannya selama 10 tahun di stasiun KA Shibuya, Tokyo, sangat melegenda. Hachiko tidak tahu bahwa Profesor Ueno, tuannya, telah meninggal di kampus tempatnya mengajar. Ia terus menjemput ‘tuannya yg hilang ’ selama bertahun-tahun sampai ajalanya sendiri tiba. Patung tembaga Hachiko sekarang menjadi monument ‘kesetiaan’ di stasiun tersebut.
Kisah kesetiaan, apalagi harus berakhir dengan perpisahanan, selalu membuat air mata saya merebak. Tapi mengapa saya harus mengambil ilustrasi hewan sebagai ‘wajah’ kesetiaan ? Sebab, bila itu dilakukan manusia, tentulah wajar. Kita punya akal dan nurani. Sedangkan hewan, yang hanya memiliki hawa nafsu, dari mana ia belajar arti setia ?
Namun, disinilah masalahnya. Sesuatu yang wajar ternyata tdk otomatis mudah didapat. Kesetiaan manusia seirng tercampuri oleh berbagai kepentingan untung rugi, karena akalnya tahu untung itu enak dan rugi itu tidak enak. Keuntungan versi pikiran seringkali mengalahkan nurani. Jadilah kesetiaan semakin sulit ditemui dalam jiwa manusia kini.
Pdhl orang yg sangat tidak setia sekalipun, tetap ingin diberi kesetiaan. Bahkan Alloh swt saja sangat gembira mendapati hamba-Nya yg kembali setia pada-Nya, melebihi kegembiraan seorang musafir yg menemukan kembali untanya yg hilang.
Kesetiaan cepat atau lambat akan melahirkan banyak kebaikan. Ia bias menumbuhkan semangat, cinta, rindu, kepercayaan diri, dan loyalitas seseorang untuk kita. Bahkan kepedihan pun akan menjadi sangat agung, ketika takdir menentukan kesetiaan harus terpisahkan oleh maut.
“Bahwasanya orang-orang yg berjanji setia kpd kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Alloh. Tangan Alloh di atas tangan mereka, maka barangsiapa yg melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Alloh, maka Alloh akan memebrinya pahala yg besar.” (TQS AL Fath [47] : 10)
Jk memang ganjaran kesetiaan begitu indah, mengapa harus sulit untuk bersikap setia ? Bukan hanya bagi pasangan, orangtua yg tidak pernah pamrih, perusahaan yg memberi gaji, walau kerja kita tdk maksimal, negara tempat kita berpijak, bahkan Tuhan semesta alam menanti kesetiaan kita dengan imbalan yg tidak tanggung-tanggung; kenikmatan hidup di dunia dan akherat.
Mari berusaha setia pd janji yg pernah tercetus, pd kebaikan perilaku yg telah kita rintis, dan pd kemuliaan ibadah yg mulai meningkat. Sehingga tak pernah akan terucap dari lisan kita,”Dulu ibadahku (atau kecintaanku padanya) lebih baik dari sekarang.”
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semuanya untuk Alloh Tuhan semesta alam.” (TQS Al An Aam [6] 162)
Oleh Meutia Geumala. Diambil dari majalah Ummi no 5/XXII/September 2010/1431 H