Sabtu, 21 Mei 2011

Fastabighul Khoirot


Istri Anggota Dewan Berebut Amal
Apa yang terbayang pada benak  kita mengenai pekerjaan ibu rumah tangga ? Sebuah pekerjaan monoton yang tiada habisnya, tidak mendapatkan status social yang jelas, tidk diberi imbalan materi, bahkan tunjangan para istri dari deretan gaji para suami sungguh tidak seberapa. Lalu, apa yang bisa diharapkan dari pekerjaan-pekerjaan rumah tangga ?
Tetapi tidak demikian dengan Ummu Abdullah yang saya kenal. Beliau berputra enam, bersuamikan seorang anggota legislative Daerah Tingkat I dari Partai Keadilan. Beliau senantiasa memulai pekerjaan rumah tangganya sejak pukul dua dinihari, sehingga pekerjaan rumah seperti mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, mempel, menyiapkan keperluan anak-anak sekolah, hingga memasak, telah selesai sejak shubuh menjelang. Bahkan, beliau senantiasa shalat malam dan selalu sempat membangunkan putrid sulungnya untuk shalat malam denagan makanan yang telah masak. Praktis, beliau selalu tidur hanya 4-5 jam sehari.
Pada siang hari, beliau tidak sedikit pun berhenti mengerjakan amaliyah. Dengan jumlah Sembilan majelis taklim di bawah beliau maka praktis beliau setiap hari dua kali mengisi kajian. Masya Alloh …
Lelahkah Ummu Abdullah dengan pekerjaan-pekerjaan itu ? Ia berkata kepada saya :”Sesungguhnya pekerjaan-pekerjaan rumah tangga kita adalah upaya untuk mencari eksistensi diri kita di hadapan Alloh, bukan di hadapan siapa-siapa, bukan suami, bukan anak-anak, bukan orang lain. Maka ia akan setara dengan jihad fisabilillah.”
Maha Suci Alloh. Betapa ketika seluruh muara amal kita adalah untuk-Nya, pekerjaan apa pun menjadi besar, walalu secara pandang dunia tampak kecil, seperti pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang senantiasa dianggap remeh oleh sebagian besar teman-teman yang menyebut diri feminis.
Berebut mal. Berapa kalikah kita belajar tentang banyaknya pahala amal shalih ? Bagaimanakah selama ini kita mempelajari arti amal shalih ? Tentu kita sudah menghafal hadits Rasul yang mengatakan bahwa menyingkirkan duri di jalan pun adalah sedekah (amal shlaih), tetapi sudahkah kita mengambil kesempatan untuk memperebutkannya ?
Maka dengarlah nasihat Ummu Abdullah pada putranya :
Suatu kali, Abdullah selesai makan, berbarengan dengan adik-adiknya. Seperti biasa, kemudian mereka mencuci piring amsing-masing. Tetapi, ternyata ada salah satu dari adik Abdullah yang tidak mencuci pirirng kotor bekas makannya. Maka, saat itu, Ummu Abdullah berkata :”Kakak, tolong cuci piring ini. Ummi masih ngepel.”
“Ah, piring kotor itu bukan bekas makanku, Ummi,” jawab Abdullah.
Maka sang Ummi berkata,”Dengarlah, nak, sesungguhnya amal adalah sesuatu yang harus diperebutkan. Semakin banyak kita mengerjakan amal maka yakinlah bahwa kita akan lebih dimudahkan oleh-Nya …”
Izzatul Jannah dalam buku Bukan Negeri Dongeng hlm 25-27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar