Minggu, 27 Februari 2011

Pikiran Akal, Pikiran Hati

In The Name of Alloh, The Most Gracious, The Most Merciful

Ringkasan Jelajah Hati, Sabtu bada Ashar, 8 Januari 2011. Kajian disampaikan oleh ust Syatori AR himself di ponpes Mahasiswi Darush Shalihat

Segala sesuatu terjaadi karena kehendak Alloh

Ketika melihat fenomena yang terjadi akibat letusan Merapi, ketika pikiran akal dan pikiran hati menjadi satu, maka kita akan mengatakan laa khaula walaa quwwata illa billah ... tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan dari Alloh

Ketika melihat saudara-saudara kita yang sedang kekurangan secara materi, kita mestinya bersyukur, keadaan kita lebih baik dari mereka. Semestinyalah kita juga lebih baik dari mereka, berkarya lebih baik ...

Bertemunya pikiran akal dan pikiran hati adalah tanda dari penyucian jiwa ( ingat ada tiga jenis jiwa ? jiwa yang utuh, retak dan pecah )

Ketika dibutuhkan waktu untuk menyatukan pikiran akal dan pikiran hati, itu adalah salah satu tanda dari retaknya jiwa

Jiwa yang utuh adalah jiwa yang apabila ada mereka yang datang untuk meminta maaf, maka ia akan berkata, saya telah memaaafkanmu ... 

Bagaimana mendapatkan jiwa yang utuh itu ?
Simak ayat Alloh berikut ...
Pada penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (ayat-ayat) Alloh bagi orang-orang yang berpikir ( = ulil albab)

Ayat di sini, mufsir ( ahli tafsir ) mengatakan maksudnya adalah segala sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik.

Kalau apa saja membuat kita lebih baik ( = ayat ), maka semakin hari kita semakin lebih baik

Kesempatan untuk menjadi ulil albab ( melihat ayat-ayatNya dalam penciptaan langit dan bumi ... ) lebih terbuka untuk kita sekarang dengan adanya kemajuan IT. Kita bisa melihat kebesaran niagara, keindahan dan keeksotisan lembah pegunungan di Cina, atau begitu kecilnya makhluk ciptaan Alloh yang bisa dilihat melalui mikroskop, etc.

Allohlah yang mengatur mata dan telinga kita untuk bisa melihat dan mendengar.
Dengan mata dan telinga kita melihat fenomena-fenomena alam yang ada untuk selanjutnya itu menjadi pikiran akal ( akan direspon oleh pikiran akal)

Tugas kitalah mempertemukan pikiran akal dengan pikiran hati sehingga bisa melihat ayat dan menjadi lebih baik

Tetapi bila pikiran akal tidak nyambung dengan pikiran hati, maka dia (pikiran akal) akan bersambung dengan pikiran nafsu, naudzubillaah ...

Untuk bisa tersambungnya pikiran akal dengan pikiran hati, ilustrasinya adalah dua hp yang mencoba untuk saling berhubungan. Hp pertama ( pikiran akal) untuk bisa terhubung baik dengan Hp kedua ( pikiran hati ), maka minimal Hp kedua ini harus memenuhi tiga syarat : 
  1. dalam keadaan ON, atau dalam kondisi yadzur (selalu merasakan kebersamaan dengan Alloh)
  2. sinyalnya kuat, atau yataffakkar (merenungi segala ciptaan Alloh sehingga tumbuh mahabbatullah, bisa melihat keagunganNya dan merasa takut akan adzab neraka)
  3. dan diangkat oleh pemiliknya, atau yaqbal (selalu menerima kehadiran iman).

Wallahu’alam ( edit and update for www.qonitat4171.blogspot.com, Ahad, 27 Februari 2011)

Jodoh di Tangan Siapa ?

In The Name of Alloh, The Most Gracious, The Most Merciful
Ringkasan Goldenways, Ahad 13 Februari 2011, pak Mario Teguh, di Metro TV tiap Ahad pukul 19.00-20.00

Belajarlah untuk menyamakan jodoh dengan kedamaian, nasib, kebahagiaan. Yang itu semua sepenuhnya adalah tanggung jaawab kita, pilihan kita

Salah satu nikmat terbesar adalah kebebasan memilih

Alloh menyerahkan kewenangan akan nasib di tangan kita.
Ingat kembali ayat yang berbunyi : Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Kewenangan mengubah nasib diserahkan kepada kita.
Kesehatan, nama baik, keselamatan, diserahkan kewenangannya secara penuh kepada kita.
Ilustrasinya adalah seorang penyeberang jalan. Ia sedang berada di pinggir jalan tol dan hendak menyebrang. Pilihan sepenuhnya ada pada dia, akan langsung menyebrang begitu saja tanpa melihat kanan kiri, atau melihat kanan kiri dulu baru menyebrang. 

Nasib selalu baik atau buruk.
Orang berilmu, kelas nasibnya dinaikkan.

Jadilah pribadi yang siap dikenalkan pada belahan jiwa kita oleh-Nya
Jadilah orang yang meningkatkan kualitas diri
Jadilah pribadi yang sepantas-pantasnya bagi belahan jiwa yang sebaik-baiknya, lalu bergaullah.
Bagaimana kita dipilih bila tidak terlihat ?

Menikah itu karena ooh
Oh ia pinter ini, pinter itu

Setelah menikah ... ee ..
Ee ternyata ia begini dan begitu J

Cinta itu melumpuhkan logika
Jadi .. pelajarilah ilmu kebaikan yang ada dalam pernikahan sebelum jatuh cinta

Kita memilih, Tuhan menyetujui pilihan tersebut.
Berhati-hatilah dari memilih yang salah dan kemudian Tuhan menyetujuinya.

Dekatkanlah diri padaNya karena Alloh melebihkan kasih sayangNya kepada orang yang melebihkan kasihnya padaNya

Kerahkanlah seluruh kemampuan kita untuk menemukan yang akan membaikkan kita.

Berkarakter baik adalah rizqy tersendiri.
Wallahu’alam ( edit and update for www.qonitat4171.blogspot.com, Ahad, 27 Februari 2011)

Selasa, 15 Februari 2011

Helen Keller said ...

Helen Keller menderita buta tuli dan bisu sejak kecil karena polio. Meski begitu dalam bimbingan sang guru, Anne Sullivan, ia berhasil meraih diplomanya. Ialah diffabel pertama peraih diploma. Difabel = different ability, julukan baru yang lebih baik untuk penyandang cacat. Berikut adalah kata-kata Helen Keller yang bertenaga.

Hasil tertinggi dari pendidikan adalah sikap toleran. Toleransi adalah prinsip dasar komunitas. Itulah yang menjaga semua pemikiran terbaik manusia

Hal-hal terbaik dan terindah dalam kehidupan tidak bisa dilihat atau diraba, tetapi harus dirasakan dengan hati

Bergembiralah !  Jangan pikirkan kegagalan hari ini, pikirkanlah kesuksesan yang akan datang esok. Sukses akan diraih jika engkau gigih dan akan engkau temukan kegembiraan dalam menaklukkan berbagai rintangan

Semakin kupikirkan, semakin aku yakin bahwa kepatuhan adalah gerbang untuk memasukkan pengetahuan dan juga cinta ke dalam pikiran anak itu (Anne Sullivan, guru Helen Keller)

Aku bahagia sepanjang hari karena pendidikan telah menghadirkan cahaya dan musik ke dalam jiwaku

Pikiran seorang anak tak ubahnya sungai kecil yang beriak dan menari lincah di atas aliran berbatu serta memantulkan bunga di sini, semak di sana, awan di situ.

Tugasku adalah berlatih, berlatih, dan berlatih. Aku sering merasa lelah dan patah semangat tetapi begitu aku teringat bahwa tak lama lagi aku akan pulang dan memperlihatkan kepada orang-orang tercintaku apa yang telah aku raih, aku pun terdorong kembali.

Masyarakat mesti tahu bahwa seorang tunanetra bukanlah seorang bodoh dan idiot. Dia memiliki pikiran yang bisa dididik, tangan yang bisa dilatih, ambisi yang pantas untuk diperjuangkan dan adalah tugas masyarakat untuk membantunya meraih yang terbaik bagi dirinya sehingga dia bisa meraih cahaya melalui pekerjaannya.

Meskipun dunia penuh dengan penderitaan, ia juga penuh dengan perjuangan menaklukkan penderitaan itu.

Ketika kemajuan mencari mitra, ia tidak berpaling kepada orang yang percaya bahwa mereka biasa-biasa saja. Ia berpaling kepada orang yang senantiasa mencari dan berjuang untuk menjadi yang terbaik yang mungkin mereka raih.

Tidak ada batas bagi keberanian dan keyakinan. Keterbatasan fisik tidak akan menghalangi seseorang untuk mencapai kesempurnaan hidup ( Eko Ramaditya Adikara, seorang tuna netra )